Saturday, August 16, 2025

Langkah Ibu Untuk Kembali Bekerja

 Kembali bekerja setelah jeda karir bisa terasa menyeramkan, terutama untuk ibu rumah tangga yang ingin menaikkan nilai hidup mereka. Perubahan dari mengatur rumah tangga untuk kembali bekerja tidak hanya perubahan lingkungan saja - ini adalah perjalanan yang akan "memeras" semua keahlian yang telah diasah selama melakukan pekerjaan rumah tangga.


Hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah merangkul semua kemampuan luar biasa yang kita tumbuhkan saat melakukan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari menyusun anggaran hingga multitugas, keahlian ini lebih relevan di tempat kerja dari yang kita sadari. Setiap harinya, sebagai ibu, kamu mengatur jadwal, mengkoordinir aktivitas, dan memastikan semuanya berjalan lancar - kemampuan sama yang dihargai oleh perusahaan diluar sana. Tonjolkan kemampuanmu dalam memprioritaskan tugas, beradaptasi dalam krisis, dan mengatasi konflik, hal ini membuatmu menjadi kandidat sempurna!


Kemudian, pertimbangkan bagaiman kamu mendesain pengalamanmu dengan efektif. Meramu resume yang merefleksikan waktumu sebagai seorang ibu rumah tangga mungkin terasa sulit, tetapi bayangkan bagaimana manajemen rumah tanggamu serupa dengan manajemen proyek. Mungkin kamu mengorganisasikan sebuah acara keluarga atau menyeimbangkan anggaran ketat agar bisa memenuhi kebutuhan. Gunakan pengalaman ini untuk menunjukkan kemampuan mengorganisasi dan kreativitasmu. Kamu mungkin ingin membuat bagian keahlian yang menyorot hal ini disamping keahlian profesional lainnya atau pengalaman kerja sebelumnya.


Membuat jejaring adalah elemen penting lainnya yang harus kamu siapkan untuk kembali ke dunia kerja. Terhubung kembali dengan mantan rekan kerja terdahulu, bergabung di komunitas lokal, atau bahkan mencari komunitas daring yang berfokus pada profesi incaranmu. Koneksi ini dapat memberikan pencerahan, dukungan dan peluang kerja. Kamu juga bisa menghadiri kursus daring atau workshop untuk mengikuti tren industri atau menambah keahlian - hal ini dapat mendorong rasa percaya dirimu dan juga memenuhi kekurangan pengetahuanmu di industri terkait.


Jangan lupa, peran sebagai seorang ibu membuatmu dilengkapi dengan empati dan komunikasi efektif - suatu hal yang penting di semua tempat kerja. Perusahaan senantiasa mencari anggota tim yang dapat berkolaborasi secara positif dan membangun relasi yang baik. Sebaliknya, kemampuanmu dapat menjadi pembeda, kamu membawa perspektif unik yang mungkin berharga bagi perusahaan.


Saat memulai perjalanan ini tetaplah berpikir positif. Sangatlah wajar merasa gelisah, namun dengan merangkul kekuatanmu akan mendorongmu pada kesuksesan. Tekankan keinginan untuk berkontribusi dan belajar, tunjukkan pada perusahaan bahwa kamu tidak hanya kembali bekerja - kamu siap membawa perspektif baru dan berharga pada tim mereka.


Transisi dari ibu rumah tangga ke profesional tidaklah menakutkan. Kamu memiliki harta karun  keahlian dan pengalaman yang dapat diaplikasikan di dunia kerja. Dengan mengakui dan menyorot kemampuan ini secara efektif, sambil terus mengembangkan diri, kamu bisa melewati fase baru dalam hidupmu. Langkah kecilmu menuntunmu ke arah tujuan, tanpa terasa kamu akan sukses di peran impianmu. Ayo, mulai petualanganmu!


*diposting sebagai pengingat diri

#kembalibekerja #ibubekerja #ceritaibu 

Tuesday, April 1, 2014

Breastfeeding for Biya

Memulai perjalanan sebagai ibu menyusui ternyata tidak semudah membalik telapak tangan (beeuggh bahasanya). Banyak godaan dan tantangan ternyata pemirsah. Salah satunya adalah si baby yang rewel. Ya, awalnya Biya rewel. Nangis kenceng kalau lepas miminya. Mungkin dari awal ceritanya kali ya..

Jadi, waktu hari pertama lahir itu, Biya belum mau mimi. Karena (maaf) puting payudara saya ada yang ke dalam gitu alias inverted nipple. Kolostrum sudah mulai keluar. Tapi karena kuatir Biya dehidrasi, malam pertama dilalui di ruang bayi sementara saya melamun di ruangan kamar. Malam pertama gak ada baby di perut itu rasanya aneh. Dan kangen. Ya, memang lebai. Biarinlah. Pengalaman pertama saya jadi ibu juga. (membela diri)

Hari kedua, saya keukeuh pengen baby Biya di kamar. Karena jauh pun saya gak bisa tidur. Dan akhirnya dari jam 3 sore Biya mulai nempel. Nempelnya terus sampai jam 3 pagi! Yuhuuu..bergadang bertiga sama suami juga. Karena gantian pas saya pengen ke toilet Biya digendong papapnya dulu. Alhasil, papapnya dan saya kecapean. Padahal esoknya sudah waktunya membawa Biya pulang. Besoknya Biya dibolehkan pulang, sampai di rumah sore menjelang Ashar. Badan saya minta istirahat. Biya masih rewel. Mamah saya dan suami sepertinya kasian sama saya sehingga akhirnya Biya dikasih sufor. Ya, susu formula pemirsah! Ada perasaan bersalah ketika saya mengiyakan pemberian susu itu. Tapi lebih gak tega denger anak nangis kelaparan. Dari hari itu, Biya hanya beberapa kali diberi sufor.

Saya sudah senang Biya bisa lepas sufor. Malah saya yang kemudian sakit. Kurang istirahat akhirnya mengalahkan saya juga. Sehingga akhirnya Biya diberi sufor kembali. Dalam satu hari paling banyak 2 botol sufor dihabiskan Biya. Selalu merasa bersalah setiap saya ingat itu. Hingga Biya berusia 1 bulan 2 minggu sufor itu masih dikonsumsi. Memang tidak setiap hari. Tapi cukup membuat saya merasa menjadi ibu yang tidak berguna. Perasaan ini yang bikin saya stress pemirsah! Pernah nangis waktu Biya gak mau tidur juga dan saya ngerasa Biya begitu karena ASInya kurang. Dan itu bukan cuma sekali saja.

Setiap harinya saya berusaha meyakinkan diri bahwa ASI saya lebih dari cukup sehingga Biya tak perlu menyentuh lagi sufor. Hari demi hari hanya itu yang saya pikirkan. Untungnya suami mendukung saya ketika saya katakan saya tetap menyusui walau mata sudah perih. Ketika saya terkena milk blister pun saya paksakan menyusui. Sakitnya luar biasa. Tapi saya ingin anak saya tetap minum ASI. Ternyata obat mujarabnya memang tetap menyusui.

Flu menyerang pun saya tetap menyusui. Alhamdulillah Biya tetap sehat. Sampai sekarang pun Biya belum pernah sakit. Semoga sehat terus ya, Nak.

Perjuangan memberi ASI masih berlanjut. Biya belum genap 6 bulan. Apalagi 2 tahun. Masih jauh perjalanan menyusui saya. Dan masih selalu meyakinkan diri bahwa ASI saya cukup untuk Biya karena kalau saya pompa ya dapatnya cuma 90ml paling banyak. Tapi selalu disyukuri dapat berapapun. Akhir-akhir ini saya memang malas pompa. Karena Biya selalu mimi juga. Malam pun begitu. Jarang lepas mimi walau mata sudah tutup. Mungkin lagi growth spurt. Yang pasti sekarang saya lebih bisa mensiasati keinginan mimi Biya. Tiap hari belajar hal baru tentang Biya. Loving Biya is loving life itself.

Semangat ASI!!

Thursday, January 2, 2014

Ibu Baru

Setelah sekian lama gak posting karena sibuk (sibuk nunggu lahiran dan setelah lahiran sibuk urus bayinya juga sibuk curi-curi waktu istirahat *nyengir*), akhirnya sempetin aja deh posting. Keburu basi juga ceritanya kalau kelamaan.

Jadi, setelah deg-degan nunggu bayinya lahir yang berasa lama banget karena neneknya udah sampe mimpi gak bisa lihat cucunya lahir, akhirnya lahir juga di saat emak-bapaknya ngerencanain jalan-jalan ke mall. Ternyata gak mau nge-mall dulu si dedenya.

8 November 2013

Setelah daftar ke dokter di pagi hari yang bikin saya balik tidur lagi, sorenya siap-siap deh ketemu dokter. Pengen lihat perkembangan dede bayi sekalian nanyain perkiraan lahirnya itu kapan karena neneknya udah gak sabar pengen gendong cucu. Sore itu ditemani sang suami siaga dan adik siaga, akhirnya pergilah ke dokter. Karena masih antri, saya minta suami dan adik ke ATM dulu berhubung gak pegang uang tunai. Ternyata, suami baru pergi ke ATM saya udah dipanggil buat ngadep ke dokter. Sendirian deh. Setelah nanya dokter perkiraannya kapan, dokter cuma bilang " kalau gak pertengahan bulan ya akhir bulan. Akhir bulan belum lahir harus induksi." 

Teteeeww..denger induksi kok serem ya? Tapi dokter nanya mau cepet lahirnya atau gak. Jawab iya deh. Dikasih resep obat pelunak rahim karena posisi bayi udah di bawah dan beratnya juga udah 3,2 kg. Yang mana kata dokter udah harus stop di 3kg aja. Abis dari dokter pulang ke rumah dan diskusi sama sang suami siaga soal obatnya. Googling dulu dong soal obatnya itu. Dan akhirnya mutusin buat nyoba minum sekali aja. Cuma seperempat tablet dan ada kemungkinan gak berhasil kata dokternya. Yowis, serahin sama Allah. Diniatin bukan maksa dedenya lahir. Cuma ngebantu buka jalan lahirnya aja.

9 November 2013

Kebangun jam 2 pagi karena kebelet dan agak mules. Setelah ke toilet ternyata mulesnya gak berenti. Berusaha ngitung sendiri jarak mulesnya. Gagal karena ngantuk. Jam 3 pagi udah gak kuat mijitin diri sendiri dan bangunin suami aja. Ngobrol sama suami sambil cengar-cengir mules dan ngerencanain pagi kalau gak ada flek juga mau jalan-jalan aja dulu ke mall. Pas adzan Subuh ternyata kebelet lagi.  Belum sampe toilet udah keluar cairan. Ternyata itu air ketuban pecah!

Langsung bilang ketubannya pecah. Suami langsung panik, ibu lebih panik lagi. Akhirnya siap-siap pergi ke klinik. Ditanya dulu mau yang deket aja dulu atau tetep ke klinik pilihan yang lumayan agak jauh jaraknya dari rumah. Ya pilih yang jauh itu aja karena udah enak sama dokternya itu (keukeuh!). Nyampe klinik ditanya-tanya terus diperiksa tensi darahnya. Ternyata tensinya tinggi dan disuruh periksa urin dulu. Abis itu di VT dan ternyata baru bukaan satu aja. Hadeeuuuh alamat disuruh pulang ini. Tapi ternyata gak boleh pulang karena ketuban udah rembes gitu. Dan dikasih obat pelunak rahim lagi. Dalam hati ngobrol sama dede bayi lahirnya cepet aja jam 7 pagi. Karena jam setengah 7 itu udah gak kuat sama mulesnya sampe minta dielus sama ibu. Dielus suami udah gak mempan.

Jam 7 kurang ternyata udah pengen ngeden. Disuruh nahan sampe 4 kali karena dokternya juga masih di jalan. Berhubung udah gak kuat akhirnya sama bidan aja. Lah dokternya aja baru masuk tol Pasteur. Kalau harus nunggu dokter ini bayi udah nongol duluan. Jam 7 pas diperiksa bukaan udah penuh dan langsung disuruh siap-siap ngeden. Panik dan kaget jadi gak bisa ngeden dong..

Alhamdulillah setelah 3 kali ngeden lahir juga si dede. Berasa mimpi lihat ada bayi keluar dari perut sendiri. Sampai gak peduli mau dijahit berapa jahitan juga. Ini bayi kayak boneka. Kecil, rapuh, bersih. IMD pun cuma dikasih setengah jam. Hiksss...

Tapi syukur alhamdulillah bayi sehat dan sempurna semuanya. Terima kasih ya Rabb. Keinginan ibu dan suami tercapai buat lihat bayi lahir. Bayi Abiya Muntazhar Anandhipraja telah lahir pada hari Sabtu, 9 November 2013 pukul 07.10 WIB dengan berat badan 3 kg dan panjang 49 cm.

Status saya pun bertambah. Saya sekarang jadi Ibu!! Semoga bisa menjadi ibu yang amanah untuk Abiya. Aamiin..


Sunday, October 6, 2013

Sabar Menanti

Menurut hitungan sekarang sudah 35 minggu berlalu. Benar-benar gak berasa. Rasanya baru kemarin deg-degan lihat hasil test pack dan berharap ada dua garis di sana. Sekarang ternyata tinggal menunggu sinyal datangnya gelombang cinta. Senangnya!

Tapi dede gak usah buru-buru keluar, ya sayang. Mamy sama papap sabar kok nunggu dede siap lahir. Gak mau buru-buru. Karena mamy masih seneng ditendang-tendang dede. *peluk* Umur dede di perut juga belum cukup. Nanti kalau dede udah siap lahir kasih tau ya, Nak!

Mamy sama papap memang pengen gendong dede tapi gak mau ngeburu-buru dede. Percaya sama Allah swt kalau dede akan lahir pada waktunya. Kalau waktu itu datang kebahagiaan mamy sama papap bertambah besar. Nenek sama kakek juga nunggu dede siap lahir. Dari kemarin udah didoain sama nenek-kakek. Sehat terus ya, de!

Sambil nunggu dede mamy sama papap cari nama dede. Ya, memang belum ketemu. Gak tau deh ya ketemu nama yang pas itu kapan. Hehehe..mudah-mudahan inspirasi itu cepat datang ya, de. Jadi dede bisa pilih sendiri namanya. Aamiin..

Sunday, September 22, 2013

1st Anniversary

22 September 2012 - 22 September 2013

Tepat satu tahun pernikahan mamy dan papap, De! Alhamdulillah satu tahun ini banyak kebahagiaan yang didapat, termasuk kebahagiaan dititipin dede di rahim mamy. Sejak tahu ada dede di rahim mamy, papap makin perhatian. Termasuk soal apa yang dimakan mamy. Dan tiap hari mamy makin bahagia karena setiap hari dede tumbuh semakin sehat. And we can't wait to see and hold you, baby!

Sebenarnya mamy pengen ngerayain satu tahun pernikahan ini. Tapi, mengingat kebutuhan dede juga masih banyak akhirnya gak jadi. Dirayain juga malah bingung mamy mau ngapain. Mau makan di luar sama papap tapi takut malah kecapean di jalan. Karena tadi pagi mamy gak enak badan juga akhirnya makanannya aja yang dibawa ke rumah. Hehehe..gak romantis sih tapi hari ini mamy dimanjain banget sama papap.

Hari ini mengingat apa yang dikerjain tahun lalu. Ingat pagi-pagi udah heboh didandanin, heboh ditanyain kapan papap sama keluarganya berangkat. Dan ingat gemetaran pas akad nikah. Walaupun sederhana dan gak undang banyak orang alhamdulillah mamy sama papap udah senang bisa resmi jadi suami-istri dan tahun ini diberkahi jadi calon orang tua buat dede sayang. Merasa beruntung karena bisa melewati satu tahun dengan berkah kebahagiaan yang semakin melimpah. Walau sekarang papap aja yang cari uang sementara mamy di rumah, alhamdulillah rizki itu datang terus.

Doa mamy hari ini: 
Ya Rabb, terima kasih atas berkah dan perlindungan-Mu selama satu tahun ini. Semoga Engkau terus memberikan berkah dan perlindungan-Mu pada keluarga kecil kami selama tahun-tahun mendatang. Berkahilah kami kesehatan dan rizki yang tidak terbatas. Terutama untuk bayi yang Kau titipkan pada kami Ya Rabb. Bimbinglah kami menuju jalan-Mu yang mulia. Engkaulah sebaik-baiknya Pelindung, Pemurah, lagi Maha Penyayang. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin..

Semoga mamy dan papap semakin harmonis, selalu jadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, dan jadi orang tua terbaik untuk dede..aamiin

Monday, September 2, 2013

Happy September

Yeeaaay it's September!!

Antara senang dan sedikit panik karena itu artinya hari ketemu dede makin dekat. Sementara persiapan belum dimulai sama sekali. Maaf ya, nak. Emak bapakmu ini masih sibuk sendiri aja. *sigh*

Tapi, alhamdulillah awal bulan ini diawali dengan berita gembira. Teman dekatku menikah, dan yang satunya lagi melahirkan normal. A great start for September :)
Cuma sedih gak bisa lihat sahabat menikah padahal udah dari sebulan yang lalu pengen datang. Dede ternyata udah gak mau jalan jauh-jauh. Maunya jalan kaki aja ya, Nak? 

Doa aja yang bisa dikirim buat kedua orang temanku itu. Congrats ya Enna & Devi! Have a wonderful journey with your new family :)


De, nanti mamy ajak nenek belanja buat keperluan dede ya..Mudah-mudahan nenek udah sehat. Kita semangat ya, De. Posisi dede udah bagus kata dokter Tono. Kita berjuang sama-sama ya, De. Mamy udah pengen peluk dede.

Friday, August 30, 2013

Waiting The Moments

10 more weeks to go...

Alhamdulillah..sudah 30 minggu terlewati ya, De. Dede makin sehat, makin kuat, makin sempurna ya di dalam sana. Aamiin..

Kemarin sempet khawatir padahal, De. Jadwal periksa ke dokter kan mundur karena dokternya mendadak gak datang padahal kita udah sampai di rumah sakit ya, De. Vitamin pun udah abis semua. Tapi mamy yakin dede baik-baik di dalam rahim mamy. Malah bikin seneng tiap harinya. Dede aktif banget geraknya. Alhamdulillah ya, De.

Semoga kita bisa kompak terus ya, Nak. Dilancarkan dan dimudahkan untuk momen bahagia ketemu langsung. Oiya, hari ini kerasa gerahnya. Dari semalam sempat bangun karena gerahnya minta ampun. Dan dede juga gerak-gerak terus. Nanti kalau udah keluar dede bobo tenang ya kayak nenek. Gak usah ngikutin jadwal tidurnya oom yang suka begadang ya, Nak.

Sambil nunggu waktunya dede keluar mamy sibuk mikirin mau beli apa dulu. Karena papap itu gak mau buru-buru beli. Padahal 10 minggu itu bentar ya, De. Nama buat Dede aja belum ada. Dede kayaknya mau dikasih namanya sama kakek nenek aja ya? Kalau ditanya malah diem sih dedenya. *manyun*

Insyaallah minggu depan mamy cicil semua keperluan dede ya. Besok kita mulai ikut senam hamil ya, De. Biar posisi dede makin bagus dan insyaallah makin lancar launchingnya. Aamiin..